Friday, December 21, 2012

ESAI: PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU: PLPG, EFEKTIFKAH?


Oleh:
Putu Eka Krisnayani

Salah satu tujuan pendidikan nasional adalah peningkatan mutu pendidikan nasional yang memerlukan peran serta dari segala pihak. Mutu pendidikan juga merupakan sasaran yang ingin dicapai oleh MBS. Pendidikan yang bermutu mengacu pada keseimbangan antara input, proses, dan output. Salah satu input yang perlu mendapat perhatian adalah tenaga pendidik. Untuk mengatasi hal tersebut pemerintah membuat sebuah program untuk meningkatkan kualitas profesionalisme tenaga pendidik dalam hal ini guru. Program tersebut adalah PLPG. PLPG adalah upaya yang dilaksanakan oleh Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (BPSDMP-PMP) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai usaha peningkatan mutu pendidikan agar guru-guru di Indonesia nantinya dapat memiliki kompetensi yang sesuai dengan standar yang ditetapkan sehingga dapat mendidik siswanya hingga mampu bersaing secara nasional maupun internasional. Dengan adanya PLPG diharapkan guru nantinya dapat meninggalkan cara mengajar konvensional yang ada dan dapat menggunakan cara mengajar yang terbaru sesuai dengan kebutuhan peserta didik masa kini.
Guru-guru selaku peserta PLPG harus mengikuti pelatihan 90 jam. Ini biasanya dilaksanakan selama 10 hari dengan jadwal pelatihan pagi hingga sore hari. Mereka mendapat beberapa materi yang biasanya dengan nara sumber berbeda setiap harinya. Berdasarkan pedoman PLPG, dosen adalah nara sumber yang wajib menyajikan materi. Pendidikan dan Latihan Profesi Guru pada prisipnya mendidik dan melatih guru agar dapat memperbaharui cara mengajarnya sehingga dapat menyesuaikan perkembangan zaman saat ini. PLPG juga akan memberikan wawasan baru sehingga seorang guru mampu menyandang gelar profesional. Jadi setelah PLPG maka tidak ada lagi yang namanya guru setengah hati, yang ada adalah guru yang mau berbuat sesuai dengan paradigma masa kini dalam mengupayakan yang terbaik untuk peserta didiknya serta memegang tanggung jawab penuh akan tugas guru dan keguruannya.
Harapan-harapan pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia memang sudah tersalurkan melalui program PLPG ini. Namun ternyata penyelenggaraan PLPG tidak terlepas dari dampak negatif. Salah satu akibat dari penyelenggaraan program ini berdampak pada stresnya peserta PLPG yang mungkin sudah berusia dan tidak selalu dalam kondisi prima serta mendapat berbagai tugas yang menuntut mereka kerja lembur. Guru diwajibkan menyiapkan Rencana Pembelajaran yang dilengkapi dengan perangkatnya (misalnya media, lembar kerja siswa, lembar evaluasi, dan lain-lain) dan akan melakukan “peer teaching” atau praktek mengajar di depan guru-guru lain yang mungkin sedang agak panik menunggu giliran tetapi terpaksa harus berpura-pura menjadi siswa. Situasi ini lebih berefek pada kepanikan, kekhawatiran, dan bukan belajar secara lebih menyenangkan. Dalam PLPG, para guru datang dengan permasalahan yang berbeda, dengan kondisi kelas, siswa dan sekolah yang juga berbeda-beda. Guru yang hanya dilatih dengan suatu metode baru dan telah tampil mengajar di hadapan teman-temannya dan telah mendapatkan kritik, mereka akan pulang di sekolahnya tanpa membawa perubahan dan dampak pada siswa-siswanya.
Tidak jarang siswa bahkan menjadi korban karena telah ditinggalkan oleh gurunya mengikuti PLPG, para guru juga harus mengeluarkan uangnya untuk mencari tempat tinggal selama pelatihan yang kira-kira 10 hari tersebut. Dan lebih celaka lagi ketika banyak guru dari sekolah tersebut mengikuti PLPG dalam waktu bersamaan, mahasiswa juga kadang-kadang menjadi korban, karena dosen harus menjadi fasilitator di acara PLPG.
Bukan rahasia lagi, akibat latar belakang studi guru atau perkembangan pembelajaran dan teknologi, guru harus mengajarkan sesuatu yang belum dia kuasai. Mereka pun dituntut mengajar dengan cara yang berbeda dari apa yang pernah dialaminya. Tidak jarang dosen mengeluhkan, apakah guru ini layak lulus? Sebaliknya, tidak jarang pula terdengar komentar peserta bahwa dosen mengajarkan model-model pengajaran inovatif dengan cara tidak inovatif. Semua ini memberi keraguan bahwa proses belajar terjadi secara optimal.
Belajar atau memahami sesuatu memerlukan suasana hati menyenangkan, diperlukan waktu yang tidak singkat, dan metode yang mengakomodasi kemampuan peserta yang berbeda-beda. Artinya pengajaran secara seragam kurang dapat membantu guru tersebut belajar. Belajar akan efektif jika dia mempelajari yang dia butuhkan. Belajar dalam kondisi yang lelah dan dengan penuh kekhawatiran bisa tidak menghasilkan apa-apa.
Jadi dapat dikatakan bahwa, PLPG menghabiskan anggaran yang cukup besar bisa saja hanya menjadi program yang berbasis proyek yang hanya hadir atas dasar keputusan politik yang berkaitan dengan penggunaan anggaran dana pendidikan secara tidak efisien, menguntungkan sejumlah pihak tetapi pada dasarnya tidak berkontribusi secara signifikan untuk kemajuan pendidikan di Indonesia. Jika pemerintah serius mau meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia melalui peningkatan mutu gurunya, pelaksanaan PLPG ini seharusnya dibarengi penelitian dengan metodologi yang dapat dipertanggungjawabkan ke publik. Jika ini hanya dilaksanakan sebagai rutinitas penggunaan anggaran negara tanpa evalusi yang jelas dan transparan, PLPG tidak memberi harapan untuk perbaikan kualitas guru atau kualitas pendidikan Indonesia. Dengan kata lain, dibandingkan dengan pengeluaran dana yang besar oleh pemerintah, PLPG tidak berarti apa-apa.
Walaupun program yang dibuat pemerintah masih banyak dampak negatifnya, setidaknya pemerintah sudah melakukan upaya untuk meningkatkan profesionalisme tenaga pendidik. Namun semua itu kembali lagi kepada individu tersebut. Jika dari dalam diri individu tersebut tidak menghendaki adanya perubahan maka mutu pendidikan di Indonesia tidak akan meningkat sesuai dengan harapan. Jadi disini diperlukan kesadaran masing-masing individu untuk selalu meningkatkan profesionalismenya sebagai tenaga pendidik. Hal yang perlu dicermati untuk meningkatkan profesionalisme tenaga pendidik, yaitu senantiasa belajar dan meningkatkan diri. Berikut adalah beberapa cara guru meningkatkan kompetensinya sendiri.
a.      Pertama, lakukan kegiatan peningkatan kompetensi dengan banyak cara dan metode.
Seperti yang kita ketahui bersama bahwa belajar bisa kapan saja, dimana saja dan dari siapa saja. Guru belajar lagi itu merupakan sebuah keharusan. Guru dapat belajar dari siapa saja yang penting ilmunya bertambah, misalkan saja belajar dari guru senior, guru junior, murid sendiri, atau dari kepala sekolah. Belajar tidak dilakukan sekali atau dua kali, kegiatan menambah ilmu ini harus dilakukan secara rutin walaupun hanya sejam.
b.      Kedua, singkirkan alasan-alasan, perbanyak sebab.
Alasan selalu benar, namun mencari pemecahan masalah itu yang sulit. Guru harus memiliki kesadaran bahwa dalam masa jabatannya beliau harus terus meningkatkan kompetensinya. Memang pernah ada suatu masa penataran/seminar/workshop jadi ajang mencari sertifikat, apapun temanya mau nyambung atau tidak dengan bidang si guru akan diikuti sepanjang ada sertifikatnya. Sebaiknya hal tersebut ditinggalkan saja. Sekarang sudah bukan jamannya lagi ada sertifikat baru mau belajar.
c.       Ketiga, mengadakan pelatihan rutin.
Cara lain yang dapat dilakukan kepala sekolah dalam meningkatkan profesionalisme guru adalah melakukan pelatihan bagi guru-guru di sekolahnya. Kepala sekolah dapat melakukan curah pendapat dengan guru-guru di sekolah yang bersangkutan. Pemilihan topik oleh guru-guru dimaksudkan agar mereka senang dan semangat mengikuti pelatihan.Jika sudah mendapat kesepakatan, tugas kepala sekolah adalah mencari pembicara atau orang yang ahli dalam bidang tersebut. Pembicara dapat berasal dari guru yang berasal dari sekolahnya sendiri, bisa juga dari luar yang berkompeten. Pembicara tidak harus memiliki gelar akademis yang tinggi, namun carilah pembicara yang bisa mengajarkan pengetahuan dan mengajarkannya secara aplikatif. Niscaya guru akan mengajar dengan cara yang baru karena guru haus akan tips dan trik terbaru dalam mengajar.


d.      Keempat, gunakan sosial media.
Sekarang sudah banyak orang yang memiliki social media, contohnya saja facebook. Dari anak kecil hingga dewasa memiliki akun facebook. Hanya saja mereka tidak menggunakan sosial media ini dengan baik. Menggunakan sosial media untuk peningkatan kompetensi guru pasti dapat dilakukan. Banyak sekali cara meningkatkan diri lewat sosial media, misalnya saja dengan bergabung di halaman Facebook organisasi guru, di sana ada banyak diskusi yang mencerahkan soal pendidikan. Di twitter ada obrolan twitedu dan gurutalk yang temanya berganti setiap minggu. Disana banyak pendidik dari seluruh Indonesia berbincang dan berdiskusi. Jika anda sudah memiliki akun di twitter ikutilah orang yang cocok untuk peningkatan kompetensi yang anda butuhkan, cobalah untuk berinteraksi dengan mereka. Mereka akan menjawab dan dengan senang hati berbagi pengetahuan.
Oleh karena itu, upaya peningkatan mutu pada tingkat satuan pendidikan bukanlah suatu pekerjaan mudah dan dapat dicapai dalam satu kali program. Mutu pendidikan dapat dicapai secara bertahap, direncanakan, dilaksanakan secara sungguh-sungguh oleh semua pihak baik pemerintah maupun peranan pelaksana pendidikan tersebut.

PENILAIAN

No.
Aspek
Bobot
Skor
Jumlah
1.
Originalitas ide/gagasan
2


2.
Pilihan kata/diksi
1


3.
Keruntutan kalimat
1


4.
Kesesuaian topik/judul dengan isi
2


5.
Kerapian dan ketepatan tanda baca serta pengetikan.
1


Total


NB:

       Rentangan skor: 0 – 100



Singaraja,                             2012
Penilai,


                                                                            I Gede Astawan, S.Pd, M.Pd

2 comments:

  1. bandar togel
    .
    Ayo segera
    Agen TOGEL 4DPOIN,Online Terpercaya.
    Minimal Deposit Dan Withdraw 20.000
    Keterangan Lebih Lanjut, Anda Bisa Hubungi Disini.
    ★ Pin BBM : D1A279B6
    ★ Pin BBM : 7B83E334
    ★ Whatsapp : +85598291698
    ★ Skype : Poin.4D
    ★ Line : +85598291698

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bodoh kali Anda komen tidak patas seperti itu, malah iklan hal bodoh pula

      Delete