Rabu, 19 Desember 2012

PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN MELALUI PENILAIAN UNTUK BELAJAR


 A.    Definisi Penilaian untuk Belajar
Konsep penilaian untuk belajar atau disingkat PuB (assessment for learning-AfL) bukanlah hal baru dalam penilaian pendidikan. PuB dikembangkan melalui perpaduan antara hasil penelitian dan praktik penilaian dalam kelas.
Salah satu prinsip yang mendasari PuB yang dikemukakan oleh Black and William berdasarkan hasil reviu penilaian formatif yang dilakukan yaitu memaksimalkan potensi yang ada dalam kelas untuk memperoleh informasi yang akurat dan memadai tentang pembelajaran yang dilakukan. Untuk mendapatkan informasi tersebut diperlukan instrumen penilaian yang dapat mengungkapkan dan menggambarkan secara jelas masalah dan kebutuhan yang dihadapi oleh siswa sehingga memberikan jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi.
Cowie and Bell (Clarke, 2005) mengatakan bahwa penilaian untuk belajar sebagai proses yang digunakan oleh guru dan anak untuk merespon pembelajaran sehingga siswa mempertinggi aktivitas atau tugas-tugas selama pembelajaran. Cowie menekankan untuk menciptakan pembelajaran yang lebih baik, siswa terlibat secara intensif dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan, sedangkan guru memberikan motivasi dan dorongan kepada siswa untuk memperbaiki dan meningkatkan belajarnya.
Definisi penilaian untuk belajar yang menekankan pada acara guru dalam melakukan penilaian, dikemukakan dalam AAIA (2001) mengatakan bahwa cara guru dalam menginformasikan hasil penilaian dan pelibatan siswa dalam proses penilaian menjadi hal yang sangat diutamakan, sehingga diperlukan kemampuan guru untuk menggunakan berbagai metode penilaian yang sesuai. Hal tersebut memungkinkan siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran.
Definisi yang hampir sama dengan AAIA, juga dikemukakan dalam CETL (2006) yang mengatakan bahwa cara atau teknik yang komprehensif dalam melakukan penilaian terhadap pembelajaran. Cara atau teknik penilaian dalam konsep penilaian untuk belajar memiliki sifat keluwesan, dalam arti teknik penilaian disesuaikan dalam konteks dan materi yang akan dinilai.
Stiggins (2005) mendefinisikan penilaian untuk belajar sebagai suatu alternatif penggunaan berbagai metode penilaian yang berbeda secara terus menerus untuk memperoleh bukti penguasaan, pengetahuan dan keterampilan siswa terhadap standar.
Berdasarkan definisi yang telah dikemukakan di atas, tampak bahwa para ahli memiliki sudut pandang yang berbeda dalam mendefinisikan penilaian untuk belajar, namun memiliki kesamaan orientasi yaitu ingin memberi harapan kepada semua anak bahwa mereka memiliki kemampuan untuk dapat belajar ke tingkat yang lebih tinggi melalui belajar dari pengalaman yang dialami sebelumnya.
B.       Tujuan Penilaian untuk Belajar
Berdasarkan definisi yang telah dikemukakan di atas, CEA (2003) menyajikan tujuan penilaian untuk belajar untuk:
1.    Memberi wawasan tentang belajar siswa kepada guru dan siswa,
2.    Meningkatkan kesuksesan untuk semua,
3.    Membantu proses penetapan tujuan,
4.    Memungkinkan refleksi secara kontinu terhadap apa yang siswa ketahui sekarang dan apa yang mereka butuhkan untuk diketahui berikutnya,
5.    Mengukur apa yang dinilai,
6.    Mempromosikan intervensi secara cepat dan menghubungkan dengan penetapan tujuan pembelajaran, dan
7.    Meningkatkan standar yang diperoleh siswa pada edges of capability.
C.      Prinsip Penilaian untuk Belajar
Salah satu faktor yang dapat menunjang pencapaian tujuan suatu pembelajaran adalah perencanaan yang matang. Menurut pendapat dari Drs.Harun Rasyid dan Drs. Mansur, M.Pd dijelaskan tentang beberapa prinsip penilaian untuk belajar yaitu:
1.    Penilaian menentukan bagaimana siswa belajar
Proses pembelajaran harus ada dalam pikiran guru dan siswa ketika penilaian direncanakan dan ketika bukti atau keterangan ditafsirkan. Siswa perlu menyadari tentang bagaimana pembelajaran mereka. Penilaian untuk belajar berpusat pada praktik dalam ruang kelas. Aktivitas-aktivitas guru dan siswa yang dilakukan dalam kelas dapat diuraikan sebagai suatu penilaian. Dalam hal ini, tugas dan pertanyaan yang mendorong siswa untuk mempertunjukkan pengetahuan, keterampilan dan pemahaman mereka. Apa yang siswa katakan dan lakukan kemudian diamati dan ditafsirkan, dan membuat penetapan tentang bagaimana pembelajaran dapat diperbaiki. Proses penilaian ini merupakan bagian esensial dari praktik dalam kelas setiap hari dan melibatkan guru dan siswa dalam refleksi, dialog dan membuat keputusan.
2.    Penilaian merupakan kunci keterampilan profesional untuk guru
Guru memerlukan pengetahuan dan keterampilan profesional untuk merencanakan penilaian, mengamati pembelajaran, menganalisis dan menafsirkan keterangan pembelajaran, memberikan umpan balik untuk siswa dan membantu siswa dalam penilaian diri sendiri. Guru harus dibantu dalam mengembangkan keterampilan-keterampilan seperti itu melalui pengembangan profesional secara kontinu. Umpan balik merupakan prinsip yang sangat krusial dalam penilaian untuk belajar, oleh karena itu umpan balik harus sensitif dan konstuktif karena sembarangan penilaian mempunyai emotional impact. Guru harus menyadari dan mengerti bahwa pengaruh komentar yang diberikan dapat meningkatkan kepercayaan diri dan antusiasme siswa, sehingga harus disusun secara konstuktif dalam bentuk umpan balik yang diberikan. Komentar-komentar tersebut difokuskan pada pekerjaan daripada persoalan pribadi mereka dan disusun secara konstruktif untuk pembelajaran dan motivasi.
3.    Penilaian untuk belajar harus mempromosikan komitmen tujuan pembelajaran dan membagi pemahaman tentang kriteria dengan mereka yang dinilai
Untuk berlangsungnya pembelajaran yang efektif, siswa perlu memahami apa yang mereka sedang berusaha untuk mencapainya. Pemahaman dan komitmen siswa merupakan bagian dalam memutuskan tujuan dan mengidentifikasi kriteria untuk menaksir kemajuan. Mengkomunikasikan kriteria penilaian dengan mereka dalam suatu diskusi yang menggunakan istilah yang mereka dapat pahami, memberikan contoh tentang bagaimana kriteria dapat dijumpai dalam praktik dan melibatkan siswa dalam self-assessment.
4.    Penilaian harus menolong pembelajar untuk mengetahui bagaimana memperbaiki belajarnya
Siswa-siswa memerlukan informasi dan petunjuk untuk merencanakan langkah-langkah belajar mereka berikutnya. Guru harus menunjukkan dengan tepat kekuatan siswa dan menasehati bagaimana cara mengembangkannya, menjelaskan kelemahan dan bagaimana cara mereka mengatasinya, dan menyediakan kesempatan siswa untuk memperbaiki pekerjaan mereka.
5.    Penilaian mengakui semua capaian prestasi pendidikan yang diraih oleh siswa
Penilaian untuk belajar harus digunakan untuk memberi kesempatan lebih banyak pada semua siswa untuk belajar dalam semua aktivitas bidang pendidikan. Di samping itu, harus memungkinkan mencapai prestasi yang terbaik dan menghargai serta mengakui usaha mereka.
Berdasarkan prinsip nilai untuk belajar tersebut di atas, tampak bahwa guru dan siswa memainkan peran yang utama dalam upaya memperbaiki dan meningkatkan pembelajaran dalam kelas. Guru diarahkan agar memiliki pengetahuan dan keterampilan yang profesional dalam mengajar, sedangkan siswa-siswa diarahkan untuk memperbaiki dan meningkatkan proses belajarnya dengan melibatkan mereka dalam penilaian melalui self-assessment, sehingga kualitas proses dan produk pembelajaran menjadi lebih baik.
D. Strategi Penilaian untuk Belajar dalam Kelas
AAIA (2001) mengembangkan strategi penerapan penilaian untuk belajar dalam kelas, yang terdiri dari empat tahap, yaitu:
a.       Tahap Identifikasi
Pada tahap ini dilakukan identifikasi strategi yang merupakan hasil penelitian dalam inside the black box dan guidelines yang ada dalam ofsted hand book. Dalam tahap ini teridentifikasi enam strategi, yaitu:
1.      Sharing tujuan pembelajaran dengan siswa.
2.      Menolong siswa agar dapat mengetahui dan memahami standar yang mereka ingin capai.
3.      Melibatkan siswa dalam penilaian diri.
4.      Memberikan umpan balik.
5.      Memiliki keyakinan bahwa semua siswa dapat diperbaiki.
6.      Melibatkan guru dan siswa dalam refleksi dan reviu informasi penilaian.
b.      Tahap Implementasi Strategi
Tahap ini merupakan implementasi strategi yang diperoleh dalam praktik di kelas secara efektif. Kegiatan yang dilakukan dalam kaitan dengan itu dapat dilihat pada tabel berikut.
Strategi
Implementasi
Sharing tujuan pembelajaran dengan siswa.
1)      Informasikan tujuan pembelajaran pada awal dan selama pelajaran dengan bahasa yang dapat dipahami oleh siswa.
2)      Gunakan tujuan pembelajaran sebagai dasar untuk questioning dan feedback selama pelajaran.
3)      Evaluasi umpan balik dalam kaitan dengan capai prestasi sebagai dasar dalam merencanakan tahapan belajar berikutnya.
Menolong siswa agar dapat mengetahui dan memahami standar yang mereka ingin capai.
1)      Tunjukkan pekerjaan siswa yang sesuai dengan kriteria, dengan eksplanasi kenapa.
2)      Berikan kriteria yang jelas yang sesuai dengan tujuan pembelajaran pada siswa.
3)      Berikan model pekerjaan sebagai contoh.
4)      Menjamin ada kejelasan dan harapan dalam menyajikan pekerjaan.
5)      Menyajikan pekerjaan siswa dengan menunjukkan prosesnya.
Melibatkan siswa dalam penilaian diri.
1)      Berikan kesempatan pada siswa untuk mengemukakan apa yang telah dipelajari, dan kesulitan-kesulitan yang ditemui selama pembelajaran.
2)      Mendorong siswa untuk bekerja bersama fokus bagaimana memperbaiki belajar.
3)      Tanyakan pada siswa untuk menyatakan tahapan berpikir mereka.
4)      Berikan waktu siswa untuk merefleksikan belajar mereka.
5)      Identifikasi bersama dengan siswa tahapan belajar berikutnya.
Memberikan umpan balik.
1)      Memberikan umpan balik secara langsung dan tertulis.
2)      Umpan balik secara konstruktif.
3)      Identifikasi apa yang telah dilakukan dengan baik oleh siswa, kebutuhan siswa untuk diperbaiki dan bagaimana melakukannya.
4)      Identifikasi tahapan-tahapan belajar berikutnya untuk individu dan kelompok.
Memiliki keyakinan bahwa semua siswa dapat diperbaiki.
1)      Identifikasi tahapan-tahapan sederhana yang memungkinkan siswa untuk melihat kemajuan mereka, sehingga membangun kepercayaan dan kesadaran diri.
2)      Membantu siswa untuk menyatakan pikiran dan alasan mereka dalam situasi kelas yang terjamin.
Melibatkan guru dan siswa dalam refleksi dan reviu informasi penilaian.
1)      Refleksi dengan siswa atau pekerjaan siswa.
2)      Memilih tugas yang sesuai sehingga memperoleh kualitas informasi penilaian.
3)      Memberikan waktu pada siswa untuk merefleksikan apa yang telah mereka pelajari dan pahami, dan untuk mengidentifikasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa.
4)      Memutuskan perencanaan, evaluasi tugas-tugas secara efektif, sebagian hasil penilaian.
c.       Tahap Refleksi
Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan adalah mendorong guru untuk mengidentifikasi dan merefleksikan aktivitas keseharian mereka dalam kelas, untuk menolong siswa belajar melalui penjelasan harapan, umpan balik yang konstruktif, dan mengidentifikasi tahapan belajar berikutnya.

d.      Tahap Reviu Kebijakan Penilaian dan Perencanaan Peningkatan Sekolah
Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan berkaitan dengan hasil yang diperoleh dari ketiga tahap sebelumnya. Berdasarkan hasil tersebut, ditinjau kembali kebijakan penilaian sekolah dan rencana peningkatan sekolah.
Keseluruhan tahap pengembangan AAIA (2001) dapat digambarkan sebagai berikut.
Tahap 1. Identifikasi Strategi

Tahap 2. Implementasi Strategi

Tahap 3. Refleksi

Tahap 4. Reviu
Tahapan-tahapan strategi pelaksanaan penilaian untuk belajar dalam kelas seperti yang tampak pada gambar di atas, mengharuskan seorang guru untuk bersikap profesional dalam melakukan penilaian. Profesional dalam arti bahwa guru dituntut untuk terlibat secara aktif dalam mengakses hasil-hasil penelitian yang berkaitan dengan pembelajaran dan penilaian yang terbaru, dan dijadikan sebagai dasar dalam menyusun dan menetapkan desain penilaian. Di samping itu, seorang guru dituntut untuk menjalin kerja sama secara periodik dengan dosen maupun praktisi pendidikan lainya untuk melakukan berbagai penelitian tindakan kelas dalam upaya inovasi metode dan strategi pembelajaran dan penilaian dalam konteks kelas, sebagai upaya memecahkan berbagai permasalahan pendidikan di dalam kelas.
E. Penilaian untuk Belajar dan Peningkatan Standar
Pada dasarnya, penilaian pada umumnya memiliki misi untuk memperbaiki standar, tidak sekedar mengukur siswa. Penilaian juga harus bertindak sebagai suatu sarana untuk meningkatkan kualitas belajar setiap siswa. Menurut pendapat Wedeen, Winter, & Broadfoot (2002) bahwa penggunaan penilaian (untuk belajar) dalam pembelajaran secara signifikan lebih efektif bagi guru dalam memperbaiki kualitas pembelajaran. Agar penilaian dapat berfungsi dengan baik sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan, maka sangat perlu untuk menetapkan standar yang akan menjadi dasar dan pijakan bagi guru dan praktisi pendidikan dalam melakukan kegiatan penilaian.
Sebagaimana yang disarankan oleh Wedeen, Winter, & Broadfoot (2002), bahwa tindakan ditingkat kebijakan atau ditingkat sekolah bisa memberi sumbangsih bagi peningkatan standar, yaitu:
1.      Kebijakan harus berupa dokumen kerja yang menginformasikan pelaksanaannya.
2.      Penilaian harus memiliki target dalam rencana pengembangan sekolah.
3.      Harus ada tim yang didukung oleh kelompok kerja yang memiliki tanggung jawab untuk meninjau kebijakan dan pelaksanaan penilaian.
4.      Inovasi dalam praktek penilaian harus digalakkan, didukung, dan dievaluasi.
5.      Komentar guru harus lebih berfokus pada pembelajaran siswa, ketimbang pada sikap, usaha, dan perilaku.
6.      Penggunaan nilai atau angka harus ditinjau dengan cermat.
7.      Cara-cara menjelaskan kriteria penilaian kepada siswa harus dikaji dan dievaluasi.
8.      Sistem pembatasan yang meningkatkan konsistensi penilaian harus diadakan.
Penilaian untuk belajar bila dijadikan sebagai alternatif untuk meningkatkan standar, maka yang pertama dan utama mesti diperhatikan adalah bagaimana merubah kultur (budaya) yang melekat pada setiap warga sekolah. Kultur sekolah memainkan peranan yang sangat penting dalam upaya melakukan perubahan penilaian di sekolah. Prof. Djemari Mardapi, Ph.D pernah mengatakan bahwa perubahan penilaian ditingkat sekolah harus didahului dengan mengubah kultur setiap warga sekolah. Pernyataan beliau tersebut mengisyaratkan bahwa kultur sekolah merupakan masalah yang perlu disikapi secara serius jika ingin melakukan perubahan.
F. Pengembangan Penilaian untuk Belajar
Menurut Drs. Harun Rasyid & Drs. Mansur, M.Pd, penilaian dapat meningkatkan standar pencapaian siswa dalam pembelajaran. Ada empat aspek utama yang dapat dipertimbangkan sebagai alternatif untuk meningkatkan pengajaran dan belajar dengan menggunakan penilaian. Pandangan menurut Drs. Harun Rasyid & Drs. Mansur, M.Pd mengenai keempat aspek tersebut adalah sebagai berikut.
Bagaimana kebijakan bisa digunakan sebagai piranti perubahan?
Kebijakan merupakan piranti pengelolaan yang berguna bagi sekolah, namun dalam banyak hal pengaruhnya terhadap pelaksanaan di lapangan masih terbatas. Dalam penilitian yang dilakukan oleh Drs. Harun Rasyid & Drs. Mansur, M.Pd pada tahun 2007 tentang keterlaksanaan penilaian pada pembelajaran matematika di Sulawesi Selatan mendapati bahwa kebijakan penilaian, sekalipun sudah ditulis lengkap, masih memiliki keterbatasan lingkup dan ketidakjelasan tujuan dan prinsip pada konteks pelaksanaan dalam kelas. Fokusnya cenderung pada cara menilai hasil pekerjaan dan cara menyusun penilaian dalam satu tahun. Kebijakan tersebut menekankan pengumpulan dan pencatatan data tentang siswa agar bisa dinilai dan diperbandingkan.
James (1998) memberikan sejumlah alternatif tema yang layak dipertimbangkan dalam melakukan penilaian untuk belajar yaitu format dan isi, implementasi, penilaian diri dan penetapan sasaran, serta tinjauan dan perencanaan.
Dapatkah kebijakan digunakan untuk mendorong perubahan?
Drs. Harun Rasyid & Drs. Mansur, M.Pd menganjurkan bahwa untuk membuat perubahan yang signifikan, standar penilaian dan peningkatan harus menjadi prioritas dalam rencana pengembangan sekolah dan didukung dengan mekanisme perubahan yang efektif.
Jika sekolah dan guru ingin membuat perubahan, mereka harus berkomitmen untuk secara kontinu mengkaji ulang cara kerja mereka dan pemahaman mereka tentang pengajaran dan pembelajaran. Perubahan pendidikan yang sesungguhnya memerlukan lebih dari sekedar solusi cepat yang berupa ’buku resep’ pendidikan. Sekolah dan guru diharuskan menjadi ‘peneliti’ di kelas mereka sendiri, unuk mengidentifikasi masalah, mencari solusi, dan mengujicobakannya dan menganalisis hasilnya. Sekolah yang paling efektif akan mengupayakan lingkungan yang kondusif bagi pengajuan pertanyaan dan pembelajaran dan mendorong guru untuk berbagi pekerjaan dalam lingkungan pembelajaran yang mendukung dan menantang. Yang membuktikan bahwa upaya itu berhasil adalah pelaku perubahan yang kuat. Jika sebagian guru melakukan perubahan dan membuktikan bahwa anak didik mereka telah mengalami kemajuan signifikan, maka sebagian guru yang lain cenderung akan mengikuti jejak mereka.
Bagaimanakah kebijakan bisa dijadikan pelaku perubahan yang lebih efektif?
Banyak sekolah yang berupaya merasionalkan bermacam praktek penilaian yang ada, meski pelaksanaan yang konsisten boleh jadi sulit tercapai, terutama pada sekolah yang besar, dan dalam beberapa kasus ada alasan yang kuat bagi terjadinya perbedaan. Salah satu cara untuk meningkatkan konsistensi adalah dengan memiliki prosedur pembatasan reguler, termasuk penggunaan portofolio. Pembatasan juga memungkinkan guru untuk berbagi praktek pengajaran yang baik dan merupakan bentuk dari pengembangan profesi. Berbagi kebijakan penilaian dengan siswa merupakan upaya yang baik dan bisa dilakukan dengan menuliskan capaian yang diharapkan pada dinding kelas atau pada buku.
Memberi nilai-nilai ataukah komentar?
Sistem penilaian apapun yang digunakan, perlu diingat bahwa siswa membutuhkan pedoman yang jelas mengenai seberapa bagus pencapaian mereka, apa yang harus mereka lakukan selanjutnya, dan bagaimana meningkatkannya. Guru yang paling berhasil harus selalu melakukan hal ini dengan berfokus pada apa yang diketahui dan dapat dikerjakan oleh siswa, bukannya memberi komentar tentang sikap, upaya, atau perilaku.
Bagaimana perencanaan penilaian dapat meningkatkan pengajaran dan pembelajaran?
Perencanaan jangka panjang, menengah, dan pendek sama-sama memainkan peran penting dalam upaya membantu siswa belajar lebih efektif dan meningkatkan standar. Meski guru semakin berkomitmen terhadap rencana jangka panjang dan jangka menengah mereka yang menjabarkan tujuan pengajaran dan pembelajaran rencana kerja ini memiliki kolom peluang penilaian yang kurang dimanfaatkan atau kurang menjadi perhatian. Ini merupakan peluang yang terlewatkan, karena bila dimanfaatkan sebaik mungkin kolom ini akan mengidentifikasi dengan jelas tujuan pembelajaran yang bisa diterjemahkan menjadi kegiatan-kegiatan di kelas melalui rencana pengajaran jangka pendek.
Mengidentifikasi tujuan pembelajaran
Mengidentifikasi tujuan pembelajaran yang jelas merupakan bagian penting dari perencanaan penilaian, karena dapat memberi fokus pada pelajaran yang bisa diajarkan kepada siswa pada bagian awal dan dievaluasi pada bagian akhir. Namun demikian sepertinya banyak guru yang merasa kesulitan untuk memformulasikannya. Sering kali perencanaan melibatkan tujuan yang teramat luas dan hasil-hasil yang kurang mengena atau fokus yang hanya terarah pada isi bukannya pada pengidentifikasian mengenai apa yang diperlukan berdasarkan pembelajaran atau hasil belajar siswa.
Bagaimana mengembangkan bermacam metode untuk mengumpulkan dan menganalisis data penilaian?
Penilaian kelas-peran guru
Guru membuat penilaian tentang siswa setiap saat. Mereka berkomentar bahwa siswanya ada yang pendiam, ada yang pekerja keras, ada yang ceria, namun ini semua merupakan komentar tentang sikap dan perilaku, bukan tentang pembelajaran dan pencapaian.
Menggunakan informasi yang ada
Jika guru mendapatkan data penilaian dari guru lain atau dari penilaian formal, mereka jarang menggunakan data tersebut karena dari hasil wawancara guru-guru kebanyakan ingin memulai penilaian dari titik terendah.
Mengumpulkan bukti penilaian
Dalam sebuah pelajaran ada banyak peluang untuk mengumpulkan potongan-potongan informasi penilaian dan memulai membuat penilaian sementara tentang siswa dan pembelajaran. Guru disuguhi banyak sekali informasi tentang siswa bahkan terlalu banyak untuk dibaca sembari berkonsentrasi untuk memberikan pelajaran secara efektif. Meski begitu, beberapa bagian dari pelajaran itu lebih ditujukan untuk mengidentifikasi seberapa banyak individu yang tahu atau telah mempelajarinya, dan dia menyimpan informasi ini untuk digunakan nantinya dalam merencanakan pelajaran selanjutnya.
Cara-cara mengumpulkan bukti penilaian dan menganalisisnya
Ada banyak cara untuk mengumpulkan bukti penilaian dan menganalisisnya, dengan metode-metode yang digunakan secara bervariasi antara mata pelajaran dan usia siswanya. Dibagian berikut ini, Drs. Harun Rasyid dan Drs. Mansur, M.Pd menawarkan bagaimana mengumpulkan dan menganalisis data hasil penilaian.
Pengamatan
Dalam kehidupan sehari-hari kita terus menerus membuat penilaian tentang orang dan menarik kesimpulan yang sering kali didasarkan pada bukti yang sedikit. Proses mengamati, menyimpulkan, menilai, dan memutuskan nyaris bisa berlangsung seketika, dan kesan pertama seorang guru barangkali perlu diubah ketika ia mengetahui lebih banyak lagi. Dalam situasi pengajaran, guru perlu menyadari bahwa ia membuat penilaian dan mengembangkan cara-cara untuk memeriksa bahwa penilaian itu akurat, sehingga tindakan-tindakan yang didasarkan pada penilaian tersebut merupakan yang paling tepat bagi siswanya.
Karena itu pengamatan mesti dilakukan secara sistematis, berfokus pada tiap-tiap anak dan perilaku tertentu agar bisa diperoleh gambaran yang lebih jelas dan lebih akurat. Tidaklah praktis bila ini dilakukan untuk semua siswa secara terus menerus, namun perencanaan yang cermat dapat menciptakan peluang pengamatan yang digunakan untuk mengecek simpulan dan penilaian dari sumber bukti lain.
Bertanya, mendengarkan, dan berdiskusi
Ini merupakan tiga cara alami terpenting yang digunakan oleh guru untuk membuat evaluasi penilaian, khususnya pada setiap siswa. Keunggulan dari bertanya, mendengarkan dan berdiskusi ialah sifatnya yang langsung, interaktif dan bisa digunakan untuk tujuan formatif dan sumatif. Dengan demikian ketiganya berpotensi sebagai keterampilan yang paling sensitif, halus dan berguna dalam upaya pengajaran dan penilaian oleh guru.
Penilaian lisan
Salah satu bidang yang terkait adalah penggunaan penilaian lisan untuk menilai pengetahuan, pemahaman dan penggunaan bahasa. Penilaian lisan bisa sangat berguna untuk siswa yang mengalami kesulitan belajar tertentu.
Penilaian lisan juga bisa digunakan untuk membantu pembelajaran melalui bermain peran atau diskusi dalam situasi semacam ini, penilaian ini memungkinkan guru untuk mengecek pengetahuan dan pemahaman dengan cara yang sangat fleksibel. Penilaian lisan juga bisa digunakan untuk membantu pembelajaran melalui bermain peran atau diskusi. Presentasi atau debat bisa memberikan wawasan yang berguna bagi guru dan membuka jalan untuk pengajuan pertanyaan yang memungkinkan guru untuk menggali pengetahuan, pemahaman dan pengembangan pemikiran dengan cara yang rinci dan menyeluruh.
Menentukan tugas
Guru menentukan tugas siswa untuk dikerjakan setiap harinya, yang mana bisa menjadi sumber bukti yang berharga mengenai pembelajaran siswa. Guru yang menyadari pentingnya penilaian formatif dan potensi pengumpulan bukti dari kegiatan kelas sehari-hari harus mampu memfokuskan tugas-tugas tersebut agar tindakan dan prestasi siswa menunjukkan apa yang mereka ketahui, apa yang dapat mereka kerjakan dan apa yang mereka pahami. Keterampilan guru ada pada penentuan tugas yang tepat dan bisa dikerjakan oleh semua siswa, namun yang juga menyoroti apa yang dipelajari oleh siswa-siswa tertentu. Kadang pemahaman siswa bisa dengan mudah dicek dengan menggunakan pertanyaan jebakan yang bisa menguak kesalahan memahami.
Pemberian nilai
Cara paling lazim bagi guru untuk memantau belajar siswa adalah dengan memberi nilai pekerjaan yang sudah selesai, baik pekerjaan kelas maupun pekerjaan yang sudah selesai, baik pekerjaan kelas maupun pekerjaan rumah. Agar berhasil, pemberian nilai harus dilakukan sesegera mungkin setelah pekerjaan selesai, dengan kehadiran siswa, jadi ketika diberikan umpan balik, pekerjaan itu masih segar dalam ingatan siswa.
Penilaian diri
Penilaian diri bisa memberi pengetahuan yang bermanfaat mengenai pemikiran siswa tentang pekerjaan mereka dan upaya mereka dalam mengerjakannya. Ini merupakan kegiatan yang berguna (bukan hanya menghemat waktu guru), karena ini dapat membantu pemahaman siswa mengenai pekerjaan yang mereka selesaikan dan tujuan yang mendasarinya. Keterampilan memberi nilai untuk pekerjaan mereka sendiri merupakan keterampilan yang diperlukan oleh siswa.
Konferensi, perencanaan tindakan dan peninjauan kemajuan
Istilah-istilah tersebut digunakan untuk menjelaskan bentuk-bentuk diskusi yang diperluas, biasanya dengan tujuan dan hasil tertentu, yang berlangsung antara guru dan siswa. Sesi-sesi tersebut memberi peluang bagi guru dan siswa untuk saling memahami berkenaan dengan isu yang muncul (konferensi), untuk menentukan pelajaran yang akan datang atau target-target perilaku (perencanaan tindakan) atau membahas hasil-hasil dari upaya sebelumnya (peninjauan kemajuan).
Pengujian berbasis pelajaran dan kognisi
Pengujian memiliki banyak bentuk dan digunakan untuk beraneka macam tujuan. Kita sekarang mengenal beberapa perbedaan antara jenis-jenis utama pengujian dan praktek pengujian dan mengidentifikasi cara-cara penggunaan pengujian untuk meningkatkan pembelajaran.
Tes buatan guru
Tes yang dibuat sendiri oleh guru yag berkaitan langsung dengan apa yang telah diajarkan bisa dibedakan dari tes umum yang dimaksudkan untuk bisa diterapkan secara umum dalam bermacam situasi. Tes guru digunakan secara luas untuk tujuan diagnosis guna menilai sejauh mana siswa telah mempelajari unit pelajaran khusus yang disusun secara lokal. Tes-tes tersebut juga bisa digunakan untuk menilai keefektifan guru dalam mengimplementasikan tujuan pembelajaran khusus.
Tes jawaban-terbuka/jawaban-tertutup
Banyak tes kelas yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang memicu imajinasi dan kreativitas, misalnya esai, ikhtisar, sinopsis, investigasi atau tugas pemecahan masalah. Tes jawaban-terbuka itu sangat lazim dalam pelajaran bahasa Inggris dan susastra, namun pelajaran-pelajaran ini juga dapat menggunakan tes tertutup dalam kaitannya dengan masalah seperti ejaan, tanggal, ibukota atau bentuk lain dari informasi faktual. Tes jawaban-tertutup mengasumsikan bahwa hanya ada satu jawaban benar, contoh yang paling dikenal adalah pertanyaan pilihan-ganda. Informasi tentang miskonsepsi atau kelemahan umum bisa didapatkan dari kedua jenis tes itu, namun cenderung lebih kaya akan kualitas dibanding tes jawaban-terbuka.
Tes berbasis–komputer
Tes ini menjadi semakin lazim. Tes ini mengidentifikasi kelebihan dan kelemahan dengan cepat memberi guru atau siswa sebuah diagnosis masalah. Informasi ini kemudian bisa digunakan sebagai landasan untuk merencanakan tugas selanjutnya. Kecepatan analisis menjadikan tes ini sebagai piranti diagnostik yang berguna untuk mengidentifikasi pemahaman dan sintesis, jika pertanyaannya bukan lagi menyangkut hafalan, pengertian dan keterampilan.
Uiian umum
Ujian umum dapat menjadi sumber data penilaian, dan data itu bisa berguna bagi guru dan siswa. Tentu saja, ujian umum sangatlah berbeda dari sebagian bentuk penilaian lain yang telah dibahas dalam bab ini karena guru pada dasarnya mulai kehilangan kendali atas proses tersebut. Di masalalu, proses ini biasanya tersembunyi, namun lama kelamaan umpan balik pada kalangan guru membuat mereka lebih mengetahui tentang proses ujian tersebut dan apa yang perlu dilakukan oleh siswa untuk lolos ujian.
Poin-poin tindakan mengumpulkan dan menganalisis data penilaian
Mengumpulkan dan menganalisis data penilaian dalam proses yang sedang berlangsung yang bisa diperbaiki jika guru:
1.      Menggunakan bermacam metode,
2.      Memahami tujuan penilaian,
3.      Memahami keterbatasan penilaian dalam menyediakan data,
4.      Memiliki waktu untuk menganalisis data secara efektif,
5.      Mencatat bukti secara sistematis dan khusus,
6.      Memastikan bahwa siswa memahami tujuan dan kriteria penilaian,
7.      Melibatkan siswa dalam proses mengumpulkan dan menganalisis data.
Apa tujuan dari pencatatan informasi ini?
Beberapa tujuan yang paling penting untuk pencatatan dan pelaporan adalah:
1.      Memberitahukan pengajaran mendatang
Guru memerlukan informasi yang akurat dan relevan mengenai siswa di kelasnya agar bisa dijadikan landasan perencanaan. Catatan tersebut harus memudahkan dalam mencapai kecocokan yang tepat antara siswa, kurikulum, pengajaran dan pembelajaran.
2.      Mendukung pemikiran pribadi
Dengan meninjau catatan pencapaian siswa, terutama dalam kaitannya dengan portofolio pekerjaan, guru dapat memikirkan tentang keberhasilan pengajaran mereka dan dapat menggunakan informasi itu untuk mengembangkan pengajaran mereka.
3.      Menyokong kontinuitas dan kemajuan
Pertukaran catatan antar para guru menjadi saran penting untuk memastikan adanya kontinuitas dan kemajuan dalam pengalaman belajar siswa dari tahun ke tahun atau antar tim penyusun mata pelajaran. Diskusi tentang bagaimana memastikan kontinuitas antar berbagai fase di dalam sistem pendidikan adalah penting dilakukan. Banyak departemen dan sekolah yang sekarang menyimpan portofolio pekerjaan siswa untuk tujuan menentukan ‘tingkat’ yang disepakati dalam penilaian guru, dan terlibat dalam penentuan target kemajuan dan perencanaan tindakan dengan tiap siswa. Perpindahan antar sekolah bisa menyulitkan bagi banyak siswa dan ini bisa mempengaruhi kemajuan pembelajaran mereka.
4.      Memberi sumbangsih bagi penilaian sumatif dan proses pertanggungjawaban
Catatan dan bukti tentang pencapaian siswa menjadi semakin dibutuhkan untuk penilaian sumatif dan untuk tujuan pertanggungjawaban. Catatan tersebut dapat membantu sewaktu membuat laporan kepada orang tua siswa, namun juga memungkinkan untuk menyusun indikator-indikator guru, bagian menyusun mata pelajaran, kinerja sekolah atau LEA.
Seperti apakah bentuk catatan atau laporannya?
Pembuatan catatan yang akurat dan konsisten memilki arti penting bagi sekolah dan cenderung disusun berdasarkan kebijakan tingkat sekolah. Tiap-tiap guru kelas dapat membuat catatan pribadi, namun Drs. Harun Rasyid dan Drs. Mansur, M.Pd menyarankan agar ini disusun oleh staf pengajar resmi, bagian penyusun mata pelajaran, atau oleh sistem sekolah. Selama bertahun-tahun telah diketahui bahwa sistem yang disusun secara tidak tepat dan memakan waktu cenderung akan ditinggalkan.
 Portofolio pekerjaan siswa
Diantara bentuk catatan yang paling berharga adalah portofolio pekerjaan setiap siswa dan informasi penilaian, yang memberi bukti untuk memahami perkembangan dan pencapaian siswa. Portofolio tersebut dapat mencantumkan materi dari kegiatan-kegiatan misalnya pekerjaan kelas, pekerjaan rumah, ujian kelas, tes kognitif, dan ujian akhir tahun, dan itu semua merupakan sumber yang baik untuk meninjau kemajuan dan menentukan target.
Membuat catatan tentang pemberian nilai dan komentar
Ada bermacam bentuk alternatif dalam membuat catatan. Contohnya, catatan pribadi dari guru bisa langsung dituliskan pada buku latihan. Catatan yang lebih formal untuk staf pengajar, departemen/bagian atau sistem sekolah cenderung ditulis dengan format baku yang digunakan oleh semua staf. Metode yang lebih lengkap adalah dengan memasukkan informasi siswa ke dalam database komputer, dimana ia bisa dengan mudah diperbaharui dan diakses dengan cepat.
Pelaporan kepada orang tua
Laporan tertulis kepada orang tua merupakan dokumen penting yang berisi bermacam jenis informasi dan memiliki tujuan yang kompleks. Bagi orang tua, laporan itu merupakan sarana utama untuk mendapatkan informasi ‘resmi’ tentang kemajuan anak-anak mereka dan juga, secara implisit, tentang sekolah, para pengajarnya dan nilai-nilai serta keutamaannya. Jika ditulis dengan tepat, laporan bisa mendorong orang tua untuk bekerja sama dengan guru dan akan membina hubungan yang efektif untuk mendukung pembelajaran siswa.
Poin-poin tindakan
Pencatatan dan pelaporan harus mempertimbangkan khalayak (siswa, orang tua, guru dan pihak luar), harus dalam bentuk yang sesuai dengan khalayaknya, dan harus sesuai dengan tujuannya (perencanaan mendatang, pemikiran pribadi, kemajuan dan keberlanjutan, pertanggungjawaban).

DAFTAR PUSTAKA

Rasyid, Harun dan Mansur. 2007. Penilaian Hasil Belajar. Bandung: CV. Wacana Prima

1 komentar: